expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pages

Saturday, August 22, 2015

Pesan Hujan Dalam Candanya

Bercanda ria bersama hujan, menertawakan kesedihan yang tak lagi menderas
Perlahan iramanya sesekali menitip pesan di atap
Rumahku sepi dari suara tangis anak-anak

Hujan ternyata mulai berpesan ...
Usah lagi tergiur lambaian laut yang mengajakmu mengarungi samudera
Keabadian cinta itu simfony janji kematian
Ia akan menahanmu, lalu menjadikanmu pengikut setianya
Atau menjadikanmu santapan para penghuninya yang ganas
Tetaplah sebagai dirimu sendiri wahai sang hujan. . .
Terlahir dari perintah langit yang biru atas dasar harapan dan do’a
Miliki kebeningan hati sejernih air hujan
Itulah pesan hujan dalam candanya

Hujanpun  berpesan setelah bercanda
Jangan biarkan orang lain membuatmu meneteskan airmata di atas penderitaan dan airmata orang lain
Tetapi, hadiahkanlah airmata dan penderitaan bagi orang lain yang lupa pada derita dan kesedihan saudaranya

Mereka lalai karena terus memuja kebahagiaannya sendiri. . .


Thursday, August 20, 2015

Malamku. . .

Aku masih bisa mengingat dengan baik setiap detail kebersamaan yang kamu ukir untukku
Teguran pertama yang membuat waktu berasa lama saat jemari menyatu
Aku tahu, saat kita bersalaman dan saling berkenalan, akan ada saat dimana kita saling mengacuh dan mengaduh
Matamu, suaramu, pekat teringat dilapisan memoriku
Perhatianmu yang sukses mencairkan setiap tak acuhku kepada yang lainnya
Genggamanmu, pelukanmu, terasa bersentuhan saat angin berhembus, perlakuanmu yang selalu membuatku nyaman
Malam ini dingin ya ?
Mungkin karena tak ada hangatnya candamu
Malam ini bodoh ya ?
Mungkin karena aku sedang tenggelam dalam rasa
Malam ini kasihan ya ?
Mungkin karena aku hanya bisa memikirkanmu tanpa jeda, tak bisa berhenti, hilang kendali dan remku mati
Malam ini aneh ya ?
Mungkin karena perlahan-lahan ada yang tak nampak
Akan tetapi...
Dirimu selalu menjadi melodi dihambarnya lirik laguku
Telah menjadi suara diheningnya ronggaku
Telah melengkapiku dengan adanya keberadaanmu
Maaf...
Maaf bila terkadang aku bising, buatmu penat
Maaf bila aku buatmu sesak
Maafkan aku, malamku, dan puisi kecilku ini
Karena aku hanya merindukanmu. . .

Tetaplah menyelimuti hati ini, membuat jiwa ini selalu hangat dan terbebas dari kebekuan hati .


Wednesday, March 25, 2015

Sajak Untuk Cinta

 Hari ini sebelum senja menutup diri, aku sadari betapa hidup sangat berarti.
Ketika manis dirimu berkata-kata, atas cinta itu bahagia.
Saat sejenak ku temukan cinta, hapus semua langit punya airmata.
Dan kemudian yang telah tersadar dan bahagia, cinta hidupkan arti hidup penuh makna.
Dan saat tangan itu ku genggam, saat merekah senyuman hangatmu dihadapanku.
Saat semua cinta ada dan terasa atas dirimu yang beri aku dunia penuh bahagia.
Ketika ketulusan cinta itu hadir tanpa pamrih, atas senyuman dan tawa yang kau berikan.
Aku bersyukur tuhan telah mempertemukan kita sampai hari ini, kau sapa aku dengan senyum hangatmu dan rindu yang membuat duniaku indah :) 



Tuesday, January 6, 2015

Diary Of My Story

Kini aku merasakan tantangan, tantangan yang berisi perjalanan dan pelajaran hidup.
Coba kau pikir, aku terdiam tak berdaya, aku terdiam tak berkata, nafas ini seperti mati. Keadaan yang membuat aku menjadi kuat, keadaan yang membuat aku menjadi pribadi yang lebih sabar dan keadaan yang membuat aku bisa mengartikan kasih sayang.
Hening malam yang terasa kian larut, bahkan hingga pagi telah menjelang.
Senyap pada sepi yang menelikung hati, sendiri dalam sunyi terus menarikan jemari hingga terlelap.
Sendiri, merasakan kesunyian ini
Diam, aku terus belajar untuk selalu bersabar.
Derap rapat-rapat hati ini agar tak selalu ada tangis, ingin sekali ku obati luka atas goresan yang tersayat dalam hati kecil ini.
Menjalani hidup sebagai anak broken home, tentunya betapa pedih yang selalu aku rasakan.
Aku sadari bukan hal yang mudah menjalani peran sebagai anak korban broken home, hingga kemudian...
Saat kaki ini mulai terasa lelah untuk menapak, mulai terasa lelah untuk mengikuti alur skenario hidup, dalam pemberhentianku untuk sejenak mengusap segala keluh.
Aku belajar menatap hidupku dari perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang kabut yang menutupi kebeningan hati.
Tapi, semua keadaan ini telah mengajariku. Tentang bagaimana aku harus memanage konsep ikhlas dalam penerimaan dalam kehidupan ini.
Mencoba menerima kehilangan sebagai bentuk proses penempaanku untuk belajar mandiri menghadapi dinamika hidup yang tidak terlalu bergantung pada sosok seorang ayah.
Keadaan ini menuntunku untuk semakin mendekat dengan ruang kesabaran, dan mencoba membuka kesadaranku bahwa keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak.
Semoga ini semua bisa menjadi penyemangat dalam kesungguhanku untuk menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti bahwa kesuksesan tak kan mampu aku genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah membiarkan semangat ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik.
Keadaan ini pun menjadi cambuk atas pemetaan masa depanku tentang bagaimana aku harus mulai mempersiapkan diri agar kelak keluargaku tak terurai seperti kedua orang tuaku.

Keadaan ini karena Allah menyayangiku lebih dari yang lain, Allah menginginkan aku tumbuh menjadi individu yang tangguh untuk senatiasa dekat denganNya J