expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pages

Tuesday, January 6, 2015

Diary Of My Story

Kini aku merasakan tantangan, tantangan yang berisi perjalanan dan pelajaran hidup.
Coba kau pikir, aku terdiam tak berdaya, aku terdiam tak berkata, nafas ini seperti mati. Keadaan yang membuat aku menjadi kuat, keadaan yang membuat aku menjadi pribadi yang lebih sabar dan keadaan yang membuat aku bisa mengartikan kasih sayang.
Hening malam yang terasa kian larut, bahkan hingga pagi telah menjelang.
Senyap pada sepi yang menelikung hati, sendiri dalam sunyi terus menarikan jemari hingga terlelap.
Sendiri, merasakan kesunyian ini
Diam, aku terus belajar untuk selalu bersabar.
Derap rapat-rapat hati ini agar tak selalu ada tangis, ingin sekali ku obati luka atas goresan yang tersayat dalam hati kecil ini.
Menjalani hidup sebagai anak broken home, tentunya betapa pedih yang selalu aku rasakan.
Aku sadari bukan hal yang mudah menjalani peran sebagai anak korban broken home, hingga kemudian...
Saat kaki ini mulai terasa lelah untuk menapak, mulai terasa lelah untuk mengikuti alur skenario hidup, dalam pemberhentianku untuk sejenak mengusap segala keluh.
Aku belajar menatap hidupku dari perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang kabut yang menutupi kebeningan hati.
Tapi, semua keadaan ini telah mengajariku. Tentang bagaimana aku harus memanage konsep ikhlas dalam penerimaan dalam kehidupan ini.
Mencoba menerima kehilangan sebagai bentuk proses penempaanku untuk belajar mandiri menghadapi dinamika hidup yang tidak terlalu bergantung pada sosok seorang ayah.
Keadaan ini menuntunku untuk semakin mendekat dengan ruang kesabaran, dan mencoba membuka kesadaranku bahwa keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak.
Semoga ini semua bisa menjadi penyemangat dalam kesungguhanku untuk menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti bahwa kesuksesan tak kan mampu aku genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah membiarkan semangat ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik.
Keadaan ini pun menjadi cambuk atas pemetaan masa depanku tentang bagaimana aku harus mulai mempersiapkan diri agar kelak keluargaku tak terurai seperti kedua orang tuaku.

Keadaan ini karena Allah menyayangiku lebih dari yang lain, Allah menginginkan aku tumbuh menjadi individu yang tangguh untuk senatiasa dekat denganNya J


No comments :

Post a Comment