Kini aku merasakan tantangan,
tantangan yang berisi perjalanan dan pelajaran hidup.
Coba kau pikir, aku terdiam tak
berdaya, aku terdiam tak berkata, nafas ini seperti mati. Keadaan yang membuat
aku menjadi kuat, keadaan yang membuat aku menjadi pribadi yang lebih sabar dan
keadaan yang membuat aku bisa mengartikan kasih sayang.
Hening malam yang terasa kian
larut, bahkan hingga pagi telah menjelang.
Senyap pada sepi yang menelikung
hati, sendiri dalam sunyi terus menarikan jemari hingga terlelap.
Sendiri, merasakan kesunyian ini
Diam, aku terus belajar untuk
selalu bersabar.
Derap rapat-rapat hati ini agar
tak selalu ada tangis, ingin sekali ku obati luka atas goresan yang tersayat
dalam hati kecil ini.
Menjalani hidup sebagai anak
broken home, tentunya betapa pedih yang selalu aku rasakan.
Aku sadari bukan hal yang mudah
menjalani peran sebagai anak korban broken home, hingga kemudian...
Saat kaki ini mulai terasa lelah
untuk menapak, mulai terasa lelah untuk mengikuti alur skenario hidup, dalam
pemberhentianku untuk sejenak mengusap segala keluh.
Aku belajar menatap hidupku dari
perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang kabut yang
menutupi kebeningan hati.
Tapi, semua keadaan ini telah
mengajariku. Tentang bagaimana aku harus memanage konsep ikhlas dalam
penerimaan dalam kehidupan ini.
Mencoba menerima kehilangan
sebagai bentuk proses penempaanku untuk belajar mandiri menghadapi dinamika
hidup yang tidak terlalu bergantung pada sosok seorang ayah.
Keadaan ini menuntunku untuk
semakin mendekat dengan ruang kesabaran, dan mencoba membuka kesadaranku bahwa
keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak.
Semoga ini semua bisa menjadi
penyemangat dalam kesungguhanku untuk menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti
bahwa kesuksesan tak kan mampu aku genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah
membiarkan semangat ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa
depan yang lebih baik.
Keadaan ini pun menjadi cambuk
atas pemetaan masa depanku tentang bagaimana aku harus mulai mempersiapkan diri
agar kelak keluargaku tak terurai seperti kedua orang tuaku.
Keadaan ini karena Allah
menyayangiku lebih dari yang lain, Allah menginginkan aku tumbuh menjadi
individu yang tangguh untuk senatiasa dekat denganNya J
No comments :
Post a Comment