Disudut kamar ini aku
terdiam, bunyi detik jam dinding yang semakin terdengar karena diluar sana
semakin sunyi. Aku termenung, sejenak aku memikirkan beban yang selama ini
selalu ada didalam fikiranku.
Hening...malam kian
larut bahkan matahari sudah hampir keluar untuk menyinari dunia dan suara-suara
ayam berkokok pun sudah mulai terdengar, tapi mata ini seakan enggan terpejam
untuk sekedar melepas lelah.
Disini bukan aku ingin
mengeluh, tapi aku hanya ingin menulis lagi tentang perihnya hari-hariku walau
selama ini aku mencoba untuk tidak merasakannya. Banyak sekali hal yang aku
kerjakan agar aku tidak selalu ingat semua kejadian yang mungkin bisa saja membuatku
tiba-tiba menangis.
Aku yang setiap hari harus
mati terkungkung dalam sunyi, dan setiap hari harus menumbuhkan kebahagiaaan
baru hanya untuk membuat lengkungan senyum di wajah ini walaupun itu semu.
Aku
tidak tahu betul apa itu kebahagiaan, tapi aku tahu caranya bangkit melawan
berbagai masalah yang berusaha mematahkan semangat dan mimpi-mimpi yang ingin
aku wujudkan. Mimpi yang aku ramu tanpa sepasang sayap malaikat yang sejak
kecil mengajak aku terbang. Namun, aku terus bangkit meski harus jatuh
berkali-kali. Menumbuhkan sayap itu sendiri lalu terbang kemana pun aku mau.
"Hidup itu selalu memberikan sebuah pilihan, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memilih dikeluarga mana ia akan dilahirkan"

No comments :
Post a Comment