expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pages

Friday, March 17, 2017

Hidup itu suatu pilihan

Sesekali aku melihat foto-foto yang berada didinding kamarku. Ya, disitu terdapat fotoku, adikku, dan kedua orang tuaku. Begitu bahagianya ya kita dulu, banyak sejarah diantara foto-foto itu ❤
Ku lihat foto itu dalam dalam, begitu bahagianya saat itu aku masih mempunyai keluarga yang lengkap dan harmonis, saat itu terlihat wajah mereka masih menyimpan cinta dan kasih sayang satu sama lain.
Tapi, kenapa semua cinta dan kasih sayang itu harus ternodai dengan adanya pertengkaran dan perselingkuhan. Ku mencoba menyusun kepingan masa-masa indah yang dulu pernah ada agar tidak ada celah.
Aku hanya bisa diam, diam dan diam...
Aku selalu mencoba untuk tidak memikirkan dan menangisi semua yang ada dibeban fikiranku, semua yang memang telah terjadi dikeluargaku. Mungkin hanya dengan berteriak aku dapat melepaskan amarah yang selalu aku pendam, dan meneteskan airmata yang selama ini selalu menumpuk didada yang semakin hari rasanya sangat sangat menyesakkan jiwa.

Haruskah seperti ini takdir yang aku alami ?
Aku sangat merindukan keluargaku yang utuh, aku merindukan kehangatan dari orangtua ku, aku rindu canda dan tawa mereka, aku sangat ingin bicara kepada mereka bahwa aku merindukan kasih sayang yang lengkap dari mereka.
Pak, sejak aku dilahirkan dan aku berada didunia ini aku selalu beranggapan bahwa engkaulah orang yang pertama kali menjaga hatiku agar tidak pernah patah dan rapuh, menjaga hatiku agar tidak disakiti oleh pria diluar sana. Tapi mengapa, sekarang kau adalah orang yang pertama kali membuat hatiku patah dan hancur berkeping-keping, bukan hanya hatiku saja, namun masa depanku dan kebahagiaanku juga. Engkau telah mengacaukan fikiranku, engkau yang selama ini selalu menyemangati aku namun engkau juga yang mematahkan semangat itu.
Aku iri dengan kehidupan orang diluar sana yang keluarganya lengkap dan harmonis, aku iri saat melihat canda tawa mereka dengan keluarganya, mereka yang merasakan kehangatan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Aku tidak membutuhkan materi, harta yang berlimpah, fasilitas yang serba terjamin. Bukan itu yang aku butuhkan, yang aku butuhkan hanya kalian, iya kalian pak mah, gadis kecilmu yang kini sudah semakin dewasa sangat rindu kebersamaan kalian berdua, namun entah mengapa hati ini masih merasakan luka yang begitu amat sangat mendalam rasanya.
Jika saja aku bisa mengulang waktu, akan ku putar ulang semua ini. Akan aku ulang mimpi-mimpi ku agar aku tetap bermimpi kalian tetap utuh sampai aku sukses, menikah, dan memberikan cucu untuk kalian berdua. Dan akan aku jaga kalian berdua agar salah satu dari kalian tidak ada yang pergi meninggalkan aku.
Ya allah..kenyataan ini sungguh pahit, kenyataan ini sangat membuat hatiku terluka, kenyataan ini membuatku menangis hampir setiap malamnya.
Dan sekarang kenyataan pahit itu telah menjadikan aku seorang wanita yang kuat, sabar, dan juga pandai. Kenapa aku bilang bahwa aku pandai ? Ya, karena semua itu aku menjadi pandai menutupi kesedihan dengan senyuman didepan orang-orang yang aku sayangi.
Jika aku ingin meminta, berikanlah aku waktu dimana hari itu aku bisa berkumpul bersama keluargaku dan menghabiskan waktu bersama seperti waktu dimana aku belum mengerti apa artinya sebuah perceraian...

“Pelangi akan muncul setelah hujan reda, begitupun dengan kehidupan. Masa-masa bahagia itu pasti akan datang setelah kesulitan yang kita hadapi, karena allah tidak akan mengabaikan setiap usaha yang telah dilakukan oleh umatNya”.

Thursday, March 16, 2017

Karena hidup (tak selalu) indah

Disudut kamar ini aku terdiam, bunyi detik jam dinding yang semakin terdengar karena diluar sana semakin sunyi. Aku termenung, sejenak aku memikirkan beban yang selama ini selalu ada didalam fikiranku.
Hening...malam kian larut bahkan matahari sudah hampir keluar untuk menyinari dunia dan suara-suara ayam berkokok pun sudah mulai terdengar, tapi mata ini seakan enggan terpejam untuk sekedar melepas lelah.

Disini bukan aku ingin mengeluh, tapi aku hanya ingin menulis lagi tentang perihnya hari-hariku walau selama ini aku mencoba untuk tidak merasakannya. Banyak sekali hal yang aku kerjakan agar aku tidak selalu ingat semua kejadian yang mungkin bisa saja membuatku tiba-tiba menangis.
Aku yang setiap hari harus mati terkungkung dalam sunyi, dan setiap hari harus menumbuhkan kebahagiaaan baru hanya untuk membuat lengkungan senyum di wajah ini walaupun itu semu.
Aku tidak tahu betul apa itu kebahagiaan, tapi aku tahu caranya bangkit melawan berbagai masalah yang berusaha mematahkan semangat dan mimpi-mimpi yang ingin aku wujudkan. Mimpi yang aku ramu tanpa sepasang sayap malaikat yang sejak kecil mengajak aku terbang. Namun, aku terus bangkit meski harus jatuh berkali-kali. Menumbuhkan sayap itu sendiri lalu terbang kemana pun aku mau.
"Hidup itu selalu memberikan sebuah pilihan, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memilih dikeluarga mana ia akan dilahirkan"